EKSPERIMEN
V
SERAPAN
SINAR RADIOAKTIF
A.
TUJUAN
Setelah melakukan eksperimen serapan sinar
radioaktif mahasiswa diharapkan dapat :
1. Menjelaskan
prinsip kerja Geiger Muller Counter (
GM).
2. Menentukan
daerah Plateau Geiger Muller.
3. Menentukan
konstanta serapan sinar radioaktif suatu bahan.
B. LANDASAN
TEORI
Radiasi merupakan suatu cara
perambatan energi dari sumber energi ke lingkungannya tanpa membutuhkan medium
atau bahan penghantar tertentu. Radiasi nuklir memiliki dua sifat yang khas :
tidak dapat dirasakan secara
langsung dan
dapat menembus berbagai jenis
bahan.
oleh karena itu untuk menentukan ada
atau tidak adanya radiasi nuklir diperlukan suatu alat, yaitu pengukur radiasi,
yang digunakan utuk mengukur kuantitas, energi, atau dosis radiasi. (http://www.
Geofisika geigermuller.htm)
Detektor radiasi bekerja dengan cara
mengukur perubahan yang disebabkan oleh penyerapan energi radiasi oleh medium
penyerap. Sebenarnya terdapat banyak mekanisme yang terjadi di dalam detektor
tetapi yang sering digunakan adalah proses ionisasi dan proses sintilasi.
Apabila dilihat dari segi jenis
radiasi yang akan dideteksi dan diukur, diketahui ada beberapa jenis detektor,
seperti detektor untuk radiasi alpha, detektor untuk radiasi beta, detektor
untuk radiasi gamma, detektor untuk radiasi sinar-X, dan detektor untuk radiasi
neutron. Kalau dilihat dari segi pengaruh interaksi radiasinya, dikenal
beberapa macam detektor, yaitu detektor ionisasi, detektor proporsional,
detektor Geiger muller, detektor sintilasi, dan detektor semikonduktor atau
detektor zat padat. Walaupun jenis peralatan untuk mendeteksi zarah radiasi
nuklir banyak macamnya, akan tetapi prinsip kerja peralatan tersebut pada
umumnya didasarkan pada interaksi zarah radiasi terhadap detektor (sensor) yang
sedemikian rupa sehingga tanggap (respon) dari alat akan sebanding dengan efek
radiasi atau sebanding dengan sifat radiasi yang diukur.( Wardhana, Wisnu Arya.
2007).
Prinsip
kerja Detektor Geiger Muller Detektor
Geiger Muller meupakan salah satu detektor yang berisi gas. Selain Geiger
muller masih ada detektor lain yang merupakan detektor isiann gas yaitu
detektor ionisasi dann detektor proporsional. Ketiga macam detektor tersebut
secara garis besar prinsip kerjanya sama, yaitu sama-sama menggunakan medium
gas. Perbedaannya hanya terletak pada tegangan yang diberikan pada
masing-masing detektor tersebut. Apabila ke dalam labung masuk zarah radiasi
maka radiasi akan mengionisasi gas isian. Banyaknya pasangan eleklron-ion yang
lerjadi pada deleklor Geiger-Muller tidak sebanding dengan tenaga zarah radiasi
yang datang. Hasil ionisasi ini disebul elektron primer. Karena antara anode
dan katode diberikan beda tegangan maka akan timbul medan listrik di antara
kedua eleklrode tersebut. Ion positif akan bergerak kearah dinding tabung
(katoda) dengan kecepatan yang relative lebih lambat bila dibandingkan dengan
elektron-elektron yang bergerak kea rah anoda (+) dengan cepat. Kecepatan
geraknya tergantung pada besarnya tegangan V. sedangkan besarnya tenaga yang
diperlukan untuk membentukelektron dan ion tergantung pada macam gas yang
digunakan. Dengan tenaga yang relatif tinggi maka elektron akan mampu
mengionisasi atom-atom sekitarnya. sehingga menimbulkan pasangan elektron-ion
sekunder. Pasangan elektron-ion sekunder inipun masih dapat menimbulkan
pasangan elektron-ion tersier dan seterusnya. sehingga akan terjadi lucutan
yang terus-menerus (avalence). Kalau tegangan V dinaikkan lebih tinggi lagi
maka peristiwa pelucutan elektron sekunder atau avalanche makin besar dan
elektron sekunder yang terbentuk makin banyak. Akibatnya, anoda diselubungi
serta dilindungi oleh muatan negative elektron, sehingga peristiwa ionisasi
akan terhenti. Karena gerak ion positif ke dinding tabung (katoda) lambat, maka
ion-ion ini dapat membentuk semacam lapisan pelindung positif pada permukaan
dinding tabung. Keadaan yang demikian tersebut dinamakan efek muatan ruang atau
space charge effect. Tegangan yang menimbulkan efek muatan ruang adalah
tegangan maksimum yang membatasi berkumpulnya elektron-elektron pada anoda.
Dalam keadaan seperti ini detektor tidak peka lagi terhadap datangnya zarah
radiasi. Oleh karena itu efek muata ruang harus dihindari dengan menambah
tegangan V. penambahan tegangan V dimaksudkan supaya terjadi pelepasan muatan pada
anoda sehingga detektor dapat bekerja normal kembali. Pelepasan muatan dapat
terjadi karena elektron mendapat tambahan tenaga kinetic akibat penambahan
tegangan V. Apabila tegangan dinaikkan terus menerus, pelucutan alektron yang
terjadi semakin banyak. Pada suatu tegangan tertentu peristiwa avalanche
elektron sekunder tidak bergantung lagi oleh jenis radiasi maupun energi
(tenaga) radiasi yang datang. Maka dari itu pulsa yang dihasilkan mempunyai
tinggi yang sama. Sehingga detektor Geiger muller tidak bisa digunakan untuk
mengitung energi dari zarah radiasi yang datang. Kalau tegangan V tersebut
dinaikkan lebih tinggi lagi dari tegangan kerja Geiger Muller, maka detektor
tersebut akan rusak, karena sususan molekul gas atau campuran gas tidak pada
perbandingan semula atau terjadi peristiwa pelucutan terus menerusbyang disebut continous discharge. (http://www.batan.go.id/pusdiklat/elearning/Pengukuran_Radiasi/Dasar_04.htm)
C.
ALAT DAN BAHAN
Alat dan bahan yang digunakan pada eksperimen
serapan sinar radioaktif dapat dilihat
pada tabel berikut.
Tabel
1.1 Alat dan bahan pada ekspermen serapan sinar radioaktif
|
NO.
|
Nama alat dan
bahan
|
fungsi
|
|
1.
|
Detektor
Geigewr Muller
|
Sebagai pendeteksi radiasi
|
|
2.
|
Unit Geiger
Muller
|
Sebagai
pencacah radiasi
|
|
3.
|
Sumber
radioaktif
|
Sebagai penghasil sinar radioaktif
|
|
4.
|
Tegel
|
Sebagai bahan
penyerap
|
D.
PROSEDUR EKSPERIMEN
Prosedur kerja pada eksperimen Serapan Sinar
Radioaktif adalah sebagai berikut:
a. Menentukan
daerah plateau
1) Merangkai
alat ( unit eksperimen serapan radioaktif )
2) Mengatur
waktu 10 sekon pada unit eksperimen serapan radioaktif
3) Mengatur
tegangan mula-mula 0V pada unit eksperimen serapan radioaktif
4) Meng-ON
kan tombol star
5) Mengamati
pencacahan sebanyak 10 kali
6) Menambahkan
tegangan menjadi 40V
7) Mengamati
lagi pencacahan sebanyak 10 kali
8) Mengulangi
langkah 6 & 7 untuk setiap kenaikan 40V
hingga tegangan maksimal
9) Memplot
grafik hubungan tegangan cacahan (V) terhadap cacahan (N).
b. Pengukuran
Serapan
Berdasarkan
plot grafik di atas diperoleh daerah Plateau. Kemudian menentukan tegangan
anoda di tengah-tengah daerah Plateau sebagai tegangan kerja. Selanjutnya:
1) Memindahkan
sinar radiasi dan melakukan pencacahan sebagai cacar latar
2) Memaang
kembali source dan melakukan pencacahan sebanyak 10 kali, dicatat sebagai N0
3) Memasang
bahan penyerap tegel 1 lapis, melakukan pencacahan sebanyak 10 kali
4) Menambahkan
jumlah tegel menjadi 2 lapis, melakukan pencacahan sebanyak 10 kali
5) Mengulangi
langkah 4 sebanyak 4 kali penambahan tegel
6) Mengukur
ketebalan tegel
7) Memplot
grafik hubungan ketebalan bahan penyerap (x cm) terhadap Ln N/N0
8) Menentukan
nilai koefisien serapan tegel
i like this
BalasHapusarfad modus.. like yg mana itu...???????!!!!!!!!
Hapuspembahsannya dong....;D
BalasHapus