andi nila
Senin, 26 Oktober 2015
makalah emulsi
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Emulsi merupakan suatu sistem yang tidak stabil, sehinggkan dibutuhkan zat pengemulsi atau emulgator untuk menstabilkannya sehingga antara zat yang terdispersi dengan pendispersinnya tidak akan pecah atau keduannya tidak akan terpisah. Ditinjau dari segi kepolaran, emulsi merupakan campuran cairan polar dan cairan non polar. Salah satu emulsi yang kita kenal sehari-hari adalah susu, di mana lemak terdispersi dalam air. Dalam susu terkandung kasein suatu protein yang berfungsi sebagai zat pengemulsi.Bebera contoh emulsi yang lain adalah pembuatan es krim, sabun, deterjen, yang menggunakan pengemulsi gelatin.
Dari hal tersebut diatas maka sangatlah penting untuk mempelajari sistem emulsi karena dengan tahu banyak tentang sistem emulsi ini maka akan lebih mudah juga untuk mengetahui zat – zat pengemulsi apa saja yang cocok untuk menstabilkan emulsi selain itu juga dapat diketahui faktor – faktor yang menentukan stabilnya emulsi tersebut karena selain faktor zat pengemulsi tersebut juga dipengaruhi gaya sebagai penstabil emulsi. Sistem emulsi termasuk jenis koloid dengan fase terdispersinya berupa zat cair
B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi emulsi ?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian emulsi
Definisi yang tepat mengenai istilah emulsi tergantung pada sudut peneliti. Ahli kimia fisik menentukan emulsi sebagai suatu campuran yang tidak stabil secara termodinamis, dari dua cairan yang pada dasarnya tidaqk saling bercampur. Bagi ahli teknologi pengembangan produk, adalah lebih bermanfaat untuk menganggap emulsi sebagai campuran dua cairan yang tidak saling bercampur, yang menunjukkan suatu shelf-life yang dapat diterima, mendekati temperatur kamar, (lachman 2008).
Emulsi, emulsiones adalah system dispersi kasar yang secara termodinamiktidak stabil. Terdiri dari minimal dua atau lebih cairan yang tidak bercampur satu sama lain. Dimana cairan yang satu terdispersi didalam cairan yang lain dan untuk memantapkannya diperlukan penambahan emulgator. Identitas emulsi berasal dari bahasa latin (emulgere = memerah) yang mengacu kepada susu sebagai jenis emulsi alam, ( R voight 1995).
B. Keuntungan dan kerugian emulsi
Keuntungan sediaan emulsi :
• Menutupi rasa minyak yang tidak enak
• Lebih mudah dicerna dan diabsorbsi karena ukuran minyak diperkecil
• Memperbaiki penampilan sediaan karena merupakan campuranyang homogen secara visual
• Meningkatkan stabilitas obat yang lebih mudah terhidrolisis dalam air
Kerugian sediaan emulsi
• Sediaan emulsi kurang praktis dari pada sediaan tablet
• Sediaan emulsi mempunyai stabilitas yang rendah dari pada sediaan tablet karena cairan merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri
• Takaran dosisnya kurang teliti
C. Tipe emulsi
Berdasarkan macam zat yang cair yang berfungsi sebagai fase internal ataupun eksternal, emulsi digolongkan menjadi dua macam, yaitu : (syamsuni 2006)
1. Emjulsi tipe O/W (Oil in Water) atau M/A (minyak dalam air), adalah emulsi yang terdiri atas butiran minyak yang tersebar atau terdispersi ke dalam air. Minyak sebagai fase internal dan air sebagai fase eksternal.
2. Emulsi tipe W/O (Water in Oil) atau A/M (air dalam minyak), adalah emulsi yang terdiri atas butiran air yang tersebar atau terdispersi ke dalam minyak. Air sebagai fase internal dan minyak sebagi fase eksternal.
D. Komponen emulsi
Komponen emulsi dapat digolongkan menjadi dua macam, yaitu : (syamsuni 2006)
1. Komponen dasar, yaitu bahan pembentuk emulsi yang harus terdapat di dalam emulsi, terdiri atas:
a. Fase dispers/fase internal/fase diskontinu/fase terdispersi/fase dalam, yaitu zat cair yang terbagi-bagi menjadi butiran kecil di dalam zat cair lain.
b. Fase eksternal/fase kontinu/fase pendispersi/fase luar,yaitu zat cair dalam emulsi yang berfungsi sebagai bahan dasar (bahan pendukung) emulsi tersebut.
c. Emulgator, adalah bagian dari emulsi yang berfungsi untuk menstabilkan emulsi.
2. Komponen tambahan, adalah bahan tambahan yang sering di tambahkan ke dalam emulsi untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Misalnya corrigen saporis, odoris, colouris, pengawet (preservative), dan antioksidan. Pengawet yang sering di gunakan dalam sediaan emulsi adalah metil-, etil-,propel-, dan butyl paraben, asam benzoate,dan senyawa ammonium kuarterner. Antioksidan yang sering digunakan antara lain asam askorbat (vitamin c), α-tokoferol, asam sitrat, propel galat, dan asam galat.
E. Zat pengemulsi
Tahap awal dalam pembuatan suatu emulsi adalah pemilihan zat pengemulsi. Agar berguna dalam preparat farmasi, zat pengemulsi harus mempunyai kualitas tertentu. Salah satunya, ia harus dapat dicampurkan dengan bahan formulatif lainnya dan tidak boleh menganggu stabilitas atau efikasi dari zat teraputik. Ia harus stabil dan tidak boleh terurai dalam preparat. Zat pengemulsi harus tidak toksis pada penggunaan.juga ia harus berbau, rasa, dan warna lemah,(ansel 1989).
Berbagai tipe bahan telah digunakan dalam farmasi sebagai zat pengemulsi jumlahnya ratusan, bahkan ribuan yang telah di tes kemampuan emulsifikasinya. Di antara zat pengemulsi dan zat penstabil untuk system farmasi adalah sebagai berikut:
Emulgator alam
1. Emulgator dari tumbuh-tumbuhan
a). gom arab
b). tragakan
c). agar-agar
d). chondrus
e). emulgator lain
2. Emulgator hewani
a). kuning telur
b). adeps lanae
3. Emulgator dari mineral
a). magnesium alumunium silikat (veegum)
b). bentonit
Emulgator buatan / sintetis
1. Sabun
2. Tween 20, 40, 60, 80
3. Span 20, 40, 60, 80
F. Teori terbentuknya emulsi
Untuk mengetahui proses terbentuknya emulsi dikenal empat macam teori yang melihat proses terjadinya emulsi dari sudut pandang yang berbeda-beda.
1. Teori tegangan permukaan (surface tension)
Molekul memiliki daya tarik menarik antara molekul yang sejenis yang disebut daya kohesi. Selain itu, molekul juga memiliki daya tarik menarik antar molekul yang tidak sejenis yang di sebut daya adhesi.
Dengan cara yang sama dapat dijelaskan terjadinya perbedaan tegangan bidang batas dua cairan yang tidak dapat bercampur (immicibel liquid). Tegangan yang terjadi antara dua cairan tersebut dinamakan “tegangan bidang batas” (interfacial tension).
Semakin tinggi perbedaan tegangan yang terjadi di bidang batas, semakin sulit kedua zat cair tersebut untuk bercampur. Tegangan yang terjadi pada air akan bertambah dengan penambahan garam-garam anorganik atau senyawa elektrolit, tetapi akan berkurang dengan penambahan senyawa organic tertentu, antara lain sabun (sapo). Dalam teori ini dikatakan bahwa penambahan emulgator akan menurunkan atau menghilangkan tegangan yang terjadi pada bidang batas sehingga antara kedua zat cair tersebut akan mudah berampur.
2. Teori orientasi bentuk baji (oriented wedge)
Teori ini menjelaskan fenomena terbentuknya emulsi berdasarkan adanya kelarutan selektif dari bagian molekul emulgator; ada bagian yang bersifat suka air atau mudah larut dalam air, dan ada bagian yang suka minyak atau mudah larut dalam minyak .
Jadi, setiap molekul emulgator dibagi menjadi dua kelompok, yaitu :
a. Kelompok hidrofilik, yaitu bagian emulgator yang suka air.
b. Kelompok lifofilik, yaitu bagian emulgator yqang suka minyak.
3. Teori film plastic ( interfacial film)
Teori ini mengatakan bahwa emulgator akan diserap pada batas antara air dan min yak, sehingga terbentuk lapisan film yang akan membungkus partikel fase dispers atau fase internal. Dengan terbungkusnya partikel tersebut, usaha antara partikel yang sejenis untuk bergabung menjadi terhalang. Dengan kata lain, fase dispers menjadi stabil.
4. Teori lapisan listrik rangkap ( electric bouble layer )
Jika minyak terdispersi ke dalam air, Satu lapis air yang langsung berhubungan dengan permukaan minyak akan bermuatan sejenis, sedangkan lapisan berikutnya akan mempunyai muatan yang berlawanan dengan lapisan di depannya. Dengan demikian seolah-olah tiap partikel minyak di lindungi oleh 2 benteng lapisan listrik yang saling berlawanan. Benteng tersebut akan menolak setiap usaha partikel minyak yang akan mengadakan penggabungan manjadi satu molekul yang besar, karena susunan listrik yang menyelubungi setiap partikel minyak mempunyai susunan yang sama. Dengan demikian antara sesama partikel akan tolak menolak, dan stabilitas emulsi akan bertambah.
G. Kestabilan emulsi
Emulsi dikatakan tidak stabil jika mengalami hal–hal seperti di bawah ini :
1. Creaming yaitu terpisahnya emulsi menjadi 2 lapisa, yaitu satu bagian mengandung fase dispers lebih banyak dari pada lapisan yang lain. Creaming bersifat reversibel, artinya jika di kocok perlahan-lahan akan terdispersi kembali.
2. Koalesensi dan cracking (breaking) adalah pecahnya emulsi karena film yang meliputi partikel rusak dan butir minyak berkoalesensi atau menyatu menjadi fase tunggal yang memisah. Emulsi ini bersifat ireversibel (tidak dapat di perbaiki kembali). Hal ini terjadi karena:
a. Peristiwa kimia : seperti penambahan alcohol, perubahan pH, penambahan elektrolit CaO/CaCl2 eksikatus.
b. Peristiwa fisika : seperti pemanasan, penyaringan, pendinginan,pengadukan.
c. Peristiwa biologis : seperti fermentasi bakteri, jamur, atau ragi.
3. Inverse fase adalah peristiwa berubahnya tipe emulsi O/W menjadi W/O secara tiba-tiba atau sebaliknya. sifatnya irreversibel.
Sabtu, 28 Februari 2015
Senin, 10 November 2014
Sabtu, 19 April 2014
laporan eksperimen X-RAY FLUORESCENCE (XRF)
PERCOBAAN VI
X-RAY
FLUORESCENCE (XRF)
A.
TUJUAN
Adapun tujuan dari percobaan X-RAY
FLUORESCENCE adalah sebagai berikut :
1. Untuk
mengetahui prinsip kerja metode X-RAY FLUORESCENCE (XRF).
2. Dapat
menguasai teknik analisa sampel menggunakan metode XRF.
3. Dapat
menentukan jenis unsur penyusun bahan atau sampel yang di uji menggunakan
metode XRF.
B.
LANDASAN
TEORI
Sinar X
ditemukan pertama kali oleh fisikawab berkembangsaan Jerman Wilhem C. Routgen
pada tanggal 8 novenber 1985. Pada saat itu Roetgen bekerja pada tabung. Dia
mengamati nyala lampu hijau pada tabung yang sebelumnya menarik perhatian
Crookes. Roetgen selanjutnya mencoba menutup tabung itu dengan kertas hitam
dengan harapan agar tidak ada cahaya tampak yang dapat lewat. Sinar X adalah
gelombang elektromagnetik yang mempunyai panjang gelombang 10-8-10-12m
dan frekuensi sekitar 10-16-1021Hz. Inar ini dapat
menembus benda-benda lunak seperti daging dan kulit tetapi tidak dapat menembus
benda-benda keras sepeti tulang gigi dan logam. Sinar X sering digunakan diberbagai
bidang seperti bidang kedokteran fisika, kimia, miniralogy, meterology dan
biologi. Sinar X dapat terbentuk apabila partikel bermuatan misalnya elektron
oleh pengaruh gaya inti atom bahan dapat mengalami perlambatan. Sinar X yang
tidak lain adalah gelombang elektromagnetik yang terbentuk melaluimelalui
proses ini disebut sinar X Bremsstrahlung. (http://www.wikipedia.org/wiki/sinar x)
X-ray fluorescence spectrometry (XRF)
merupakan teknik analisa non-destruktif yang digunakan untuk identifikasi serta
penentuan konsentrasi elemen yang ada pada padatan, bubuk ataupun sample cair.
XRF mampu mengukur elemen dari berilium (Be) hingga uranium pada level trace
element. Secara umum XRF spektrometer mengukur panjang gelombang komponen
material secara individu dari emisi floursensi yang dihasilkan sampel saat
diradiasi dengan sinar-X. Analisis menggunakan XRF dilakukan berdasarkan
identifikasi dan pencacahan karakteristik sinar-X nyang terjadi akibat efek fotolistrik.
Efek fotolistrik terjadi karena elektron dalam atom terget pada sampel terkena
sinar berenergi tinggi (http://dunia-wahyu.blogspot.com/2011//11/x-ray-fluorosence-xrf).
Sinar-X dapat terbentuk apabila partikel bermuatan
misalnya electron oleh pengaruh gaya inti atom bahan mengalami perlambatan.
Sinar-X yang tidak lain adalah gelombang elektromagnetik yang terbentuk melalui
proses ini disebut sinar-X bremsstrahlung. Sinar-X yang terbentuk dengan cara
demikian mempunyai energi paling tinggi sama dengan energy kinetik partikel
bermuatan pada waktu terjadi perlambatan.
C.
ALAT
DAN BAHAN
Alat
dan bahan yang digunakan pada percobaan eksperimen X-Ray Fluorescence (XRF)
dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 1.1 Alat dan bahan
|
No
|
Nama
alat dan bahan
|
Fungsi
|
NST
|
|
1
|
Unit
X- Ray Apparatus
|
Sebagai
pemancar sinar X
|
|
|
2.
|
Sensor
CASSY
|
Sebagai
penghubung X-RAY Apparatus ke PC
|
|
|
3.
|
PC
Windows 7
|
Sebagai
pengontrol X-RAY Apparatus
|
|
|
4.
|
Blank
Sample
|
Sebagai
bahan yang diujikan
|
|
|
5.
|
Spektrum
sample pembanding
|
Sebagai
pembanding terhadap blank sample
|
|
D. Prosedur Eksperimen
Prosedur eksperimen yang dilakukan pada
percobaan X-Ray Fluorescence adalah sebagai berikut :
1. Menyiapkan
sampel blank.
2. Merangkai
alat X-Ray apparatus dan sensor CASSY
3.
Memasukkan dan
menempatkan sampel blank di Target Table dalam X-Ray Apparatus.
4. Mengatur
nilai High Voltage U=35kV, Emission Current I=1,00mA.
5. Memanggil
program CASSY Lab di PC,mengatur parameter pengukuran.
6. Menekan
HV pada X-Ray apparatus.
7. Menjalankan
program dengan menekan F9 pada keyboard.
8. Mengsave
gambar spektrum yang telah diperoleh.
9. Melakukan
langkah – langkah di atas untuk sampel blank yang lain.
10. Menganalisis hasilnya (unsur penyusun sampel)
dengan membandingkan dengan spektrum yang diberika asisten.
E. DATA PENGAMATAN
Sampel 1
Sampel 2
Sampel 3
Sampel 4
Sampel
5
Sampel
6
Sampel 7
Sampel 8
Sampel 9
Sampel 10
Asisten Pembimbing
Refliyanis Munandar
F.
PEMBAHASAN
X-ray Flourescence merupakan titik analisa yang non-deduktif yang
digunakan untuk mengidentifikasi konsentrasi elemen yang ada pada padatan,
bubuk atau sample cair. Secara umum X-ray Flourescence mengukur panjang
gelombang komponen material secara individu dari emisi floursensi yang
dihasilkan sampel saat radiasi dengan sinar x. Analisa menggunakan X-ray
Flourescence dilakukan berdasarkan identifikasi dan pencacahan karakteristik
sinar x yang terjadi akibat efek fotolistrik. Efek fotolistrik terjadi karena
electron dalam atom target pada sampel terkena sinar berenergi tinggi.
Pada percobaan X-ray Flourescence dilakukan untuk mengamati
kandungan dan jumlah energi terdapat pada sampel blank dengan menggunakan alat X-ray
Apparatus.
G.
KESIMPULAN
Dari pembahasan di atas dapat ditarik kesimpulan yaitu :
1.
Untuk
mengetahui prinsip kerja metode X-Ray fluorescence dilakukan berdasarkan
identifikasi dan pencacahan karakteristik sinar X yang terjadi akibat efek
fotolistrik. Efek fotolistrik terjadi karena electron dalam atom pada sampel
yang terkena sinar yang berenergi tinggi.
H.
DAFTAR
PUSTAKA
laporan eksperimen mesin pendingin
PERCOBAAN IV
MESIN PENDINGIN
(andi bau karmila, asryani sarce, desna anggara, rasap)
A. Tujuan
1. Menjelaskan prinsi kerja mesin pendingin
2. Menyebutkan bagian-bagian mesin pendingin
3. Menentukan koefisien performansi mesin pendingin
B. Dasar teori
Mesin pendingin merupakan mesin yang berfungsi untuk memindahkan panas dari lingkungan bersuhu rendah ke lingkungan bersuhu tinggi. Mesin pendingin dapat dibayangkan sebagai mesin kalor yang beroperasi secara terbalik.
Gambar 4.1 Prinsip kerja mesin pendingin
Secara skematik, aliran energi kalor pada mesin pendingin dapat digambarkan seperti gambar 1. Kalor yang diserap dari reservoir suhu rendah (Qinput) dan kerja yang dibutuhkan (W) memiliki hubungan matematis:
Rasio antara Qoutput/W, disebut sebagai Koefisien Kinerja (K). Semakin besar rasio ini, semakin baik pendinginnya (http:// teknologi .kompasiana.com/terapan/2013/12/23/mesin-pendingin-620921.html).
Kompresor sebagai komponen penggerak fluida digerakkan oleh motor listrik yang membutuhkan energi masukan untuk melakukan kerja (W) setiap siklusnya. Kerja selalu dibutuhkan untuk memindahkan panas dari benda dingin ke benda yang panas. Panas mengalir secara spontan dari benda panas ke benda lebih dingin, dan untuk membalikkan alirannya dibutuhkan kerja dari luar (Young, 2002).
Kompresor menarik fluida dari evaporator dan menurunkan tekanan di evaporator sehingga zat pendingin dapat menguap pada suhu yang lebih rendah. Penurunan tekanan fluida mengakibatkan fluida berubah fasenya dari cair menjadi uap. Proses perubahan fase cair ke fase uap ini membutuhkan energi yaitu energi penguapan, sehingga refrigeran menyerap panas (Qinput) dari sekelilingnya.
Fluida dari evaporator dikirim oleh kompresor ke kumparan kondensor pada tekanan tinggi. Suhu fluida menjadi lebih tinggi dari pada udara disekitar kondensor, maka fluida melepaskan kalor (Qoutput) dan sebagian refrigeran mengembun. Fluida berekspansi secara adiabatik menuju evaporator dengan laju yang dikontrol oleh katup ekspansi.
Gambar 4.2 Siklus Refrigerator
Siklus refrigeration dalam refrigerator dapat digambarkan melalui diagram P-V seperti gambar 4.2. Kompresor bekerja secara otomatis yang dikendalikan saklar otomatis. Saklar otomatis ini dapat berupa thermostat yang dikendalikan oleh suhu dan sebagai pengamannya dapat digunakan bimetal yang dikendalikan oleh tegangan listrik. (http://teknologi.kompasiana.com/terapan/2013/12/23/mesin-pendingin-620921.html).
Bagian-bagian penting mesin pendingin, adalah sebagai berikut:
1) Kompresor
Kompresor memompa bahan pendingin ke seluruh sistem. Gunanya adalah untuk menghisap gas tekanan rendah dan suhu terendah dari evaporator dan kemudian menekan/ memampatkan gas tersebut, sehingga menjadi gas dengan tekanan dan suhu tinggi, lalu dialirkan ke kondensor.
2) Kondensor
Kondensor adalah suatu alat untuk merubah bahan pendingin dari bentuk gas menjadi cair. Bahan pendingin dari kompresor dengan suhu dan tekanan tinggi, panasnya keluar melalui permukaan rusuk-rusuk kondensor ke udara. Sebagai akibat dari kehilangan panas, bahan pendingin gas mula-mula didinginkan menjadi gas jenuh, kemudian mengembun berubah menjadi cair.
3) Evavorator
Evaporator adalah suatu alat dimana bahan pendingin menguap dari cair menjadi gas. Melalui perpindahan panas dari dinding – dindingnya, mengambil panas dari ruangan di sekitarnya ke dalam sistem, panas tersebut lalu di bawa ke kompresor dan dikeluarkan lagi oleh kondensor.
4) Pipa kapiler
Pipa kapiler gunanya adalah untuk :
a. Menurunkan tekanan bahan pendingin cair yang mengalir di dalam pipa tersebut.
b. Mengontrol atau mengatur jumlah bahan pendingin cair yang mengalir dari sisi tekanan tinggi ke sisi tekanan rendah.
5) Keran ekspansi
Keran ekspansi ada 2 macam
a. Automatic Expasion Valve
b. Thermostatic Expansion Valve
Thermostatic Exspansion Valve lebih baik dan lebih banyak dipakai, tetapi pada AC hanya dipakai automatic expansion valve, maka disini kita hanya akan membicarakan automatic expansion valve saja. Gunanya untuk menurunkan cairan dan tekanan tekanan evaporator dalam batas-batas yang telah di tentukan dengan mengalirkan cairan bahan pendingin dalam jumlah yang tertentu ke dalam evaporator (http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pendidikan/Hartoyo,%2520S.Pd.,M.Pd.,M.T./Prinsip-kerja-mesin-pendingin.html).
C. Alat dan bahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam percobaan Mesin Pendingin dapat dilihat pada tabel 4.1
Tabel 4.1 Alat dan bahan
No.
|
Alat dan bahan
|
Fungsi
|
NST
|
JU
|
1.
2.
3.
4.
5.
6.
|
Paket mesin pendingin
- Tandon dingin
- Tandon panas
- Tabung Kompresor
-Katup sernak
Termometer
Amperemeter Clamp
Gelas Ukur
Air 2 liter
Stopwatch
|
Untuk wadah air dingin
Untuk wadah air panas
Memberikan tekanan langsung yang berasal dari listrik untuk mengalirkan gas refrigerant pada tandon dingin dan tandon panas.
Untuk mengatur tekanan agar tetap konstan
Mengukur temperatur air dingin dan air panas.
Mengukur arus listrik
Mengukur volume air yang digunakan
Sebagai bahan yang diamati
Mengukur waktu perubahan suhu
|
00 C
0,001 A
|
1000 C
1.000 A
|
D. Prosedur kerja
Prosedur kerja yang dilakukan dalam percobaan Mesin Pendingin adalah sebagai berikut:
1) Menggambarkan bagian-bagian mesin pendingin, dan menjelaskan fungsinya
2) Memeriksa tandon dingin dan tandon panas apakah benar-benar kosong (tidak terisi air)
3) Mengisi air kedua tendon mesin pendingin masing-masing 1.000 ml
4) Menutup wadah tandon dingin dengan lakban, agar udara tidak masuk
5) Mengukur temperatur awal
6) Mengaktifkan secara bersama-sama stopwatch dengan mesin pendingin
7) Mengukur arus listrik dengan amperemeter clamp
8) Membaca termometer tiap 5 menit
9) Menentukan besar usaha listrik, dan kalor yang dipindahkan
10) Menentukan koefisien kinerja mesin pendingin
E. Analisis data
1) Menentukan besar usaha refrigerant
Dengan cara yang sama untuk data yang lain dapat dilihat pada tabel 4.2
Tabel 4.2 Besar usaha refrigerant
No
|
W
| ||
1
|
100800
|
134400
|
33600
|
2
|
92400
|
151200
|
58800
|
3
|
79800
|
163800
|
84000
|
4
|
75600
|
176400
|
100800
|
5
|
71400
|
184800
|
113400
|
6
|
63000
|
189000
|
126000
|
7
|
50400
|
197400
|
147000
|
8
|
46200
|
201600
|
155400
|
9
|
42000
|
210000
|
168000
|
10
|
33600
|
218400
|
184800
|
11
|
25200
|
222600
|
197400
|
12
|
21000
|
226800
|
205800
|
13
|
16800
|
226800
|
210000
|
14
|
12600
|
226800
|
214200
|
15
|
12600
|
226800
|
214200
|
2) Menentukan koefisien performansi akhir mesin pendingin
a)
b)
Dengan cara yang sama untuk data yang lain dapat dilihat pada tabel 4.3
Tabel 4.3 Koefisien performansi akhir mesin pendingin
No
|
Qc
|
W
|
ɳ 1
|
ɳ 2
|
1
|
100800
|
33600
|
3
|
2.727273
|
2
|
92400
|
58800
|
1.571429
|
1.25
|
3
|
79800
|
84000
|
0.95
|
0.719697
|
4
|
75600
|
100800
|
0.75
|
0.511364
|
5
|
71400
|
113400
|
0.62963
|
0.386364
|
6
|
63000
|
126000
|
0.5
|
0.284091
|
7
|
50400
|
147000
|
0.342857
|
0.194805
|
8
|
46200
|
155400
|
0.297297
|
0.15625
|
9
|
42000
|
168000
|
0.25
|
0.126263
|
10
|
33600
|
184800
|
0.181818
|
0.090909
|
11
|
25200
|
197400
|
0.12766
|
0.061983
|
12
|
21000
|
205800
|
0.102041
|
0.047348
|
13
|
16800
|
210000
|
0.08
|
0.034965
|
14
|
12600
|
214200
|
0.058824
|
0.024351
|
15
|
12600
|
214200
|
0.058824
|
0.022727
|
Grafik hubungan antara temperatur (Tc dan Th) dan waktu (t)
F. Pembahasan
Mesin pendingin merupakan mesin yang dapat difungsikan untuk memindahkan panas dari lingkungan bersuhu rendah ke lingkungan yang bersuhu tinggi. Kompresor yang terdapat pada mesin pendingin berfungsi sebagai komponen penggerak fluida digerakkan oleh motor listrik yang membutuhkan energi masukan untuk melakukan kerja (W) setiap siklusnya. Kerja selalu dibutuhkan untuk memindahkan panas dari benda dingin ke benda yang panas. Panas mengalir secara spontan dari benda panas ke benda lebih dingin, dan untuk membalikkan alirannya dibutuhkan kerja dari luar. Berdasarkan pernyataan Clausius, bahwa tidak ada mesin yang menyerap energi seluruhnya kemudian mampu mengubah seluruh energi yang diserap sepenuhnya menjadi kerja/ usaha. berdasarkan pernyataan tersebut maka muncul efisiensi mesin (atau nilai kinerja mesin) yang dinyatakan dengan koefisien performansi Ƞ.
Koefisien performansi merupakan koefisien unjuk kerja dari siklus refrijerasi atau pendingin yang menunjukan kualitas unjuk kerja suatu sistem refrijerasi dan dinyatakan dengan suatu angka hasil perbandingan antara energi yang diserap dari udara ruang dan energi yang digunakan untuk mengkompresi gas di kompresor.
G. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diberikan pada percobaan mesin pendingin adalah sebagai berikut:
1. Mesin pendingin merupakan mesin yang dapat difungsikan untuk memindahkan panas dari lingkungan bersuhu rendah ke lingkungan yang bersuhu tinggi.
2. Bagian-bagian mesin pendingin terdiri dari : Kompresor, Kondensor, Evavorator, Pipa kapiler dan Keran ekspansi.
Daftar Pustaka
Young & Freedman. 2002. College Physics. San Francisco: Pearson Education, Inc, publishing as Addison-Wesley.
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pendidikan/Hartoyo,%2520S.Pd.,M.Pd.,M.T./Prinsip-kerja-mesin-pendingin.html. access online 04 april 2014
http://teknologi.kompasiana.com/terapan/2013/12/23/mesin-pendingin-620921.html. access online 04 april 2014
Langganan:
Komentar (Atom)