Minggu, 04 November 2012

praktikum fisika pengukuran dasar

BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG

Fisika adalah ilmu pengetahuan eksperimental, dimana berupa ilmu yang memahami segala sesuatu tentang gejala alam melalui pengamatan atau observasi dan memperoleh kebenarannya secara empiris melalui panca indera. Dalam melakukan eksperimen kita memerlukan pengukuran – pengukuran. Karena itu, pengukuran merupakan bagian yang sangat penting dalam proses membangun konsep-konsep fisika.
Pengamatan suatu gejala secara umum tidak lengkap apabila tidak ada data yang didapat dari hasil pengukuran. Lord Kelvin, seorang ahli fisika berkata, bila kita dapat mengukur yang sedang kita bicarakan dan menyatakannya dengan angka-angka, berarti kita mengetahui apa yang sedang kita bicarakan itu.
Hasil dari pengukuran selalu mengandung dua hal ,yakni kuantitas atau nilai dan satuan. Sesuatu yang memiliki kuantitas dan satuan dinamakan besaran.
 Untuk mengukur setiap besaran telah diciptakan alat ukurnya masing – masing.Sehubungan demgan hal tersebut maka untuk lebih mengetahui cara menggunakan dan menetukan hasil pengukuran dengan menggunakan alat ukurnya masing – masing maka diadakanlah percobaan “Pengukuran Dasar”.

B.     TUJUAN PERCOBAAN
Adapun tujuan dilakukannya percobaan ini adalah sebagai berikut :
1.   Mempelajaris cara pembacaan skala pada alat –alat ukur
2.   Menentukan hasil pengukuran dengan menggunakan alat ukur yang sesuai.
C.    MANFAAT PERCOBAAN
Adapun manfaat yang dapat diperoleh setelah melakukan percobaan ini adalah sebagai berikut:
  1.  Siswa mampu membaca skala pada alat – alat ukur
  2. Siswa mamapu menentukan hasil pengukuran dengan menggunakan alat  ukur yang sesuai.


















BAB II
KAJIAN TEORI

Dalam fisika dan teknik, pengukuran merupakan aktivitas yang membandingkan kuantitas fisik dari objek dan kejadian dunia-nyata. Atau membandingkan antara suatu besaran dengan besaran lain yang sejenis yang dijadikan acuan. Dan alat ukur adalah alat yang digunakan untuk mengukur benda atau kejadian tersebut(Wikipedia).
Hasil pengukuran selalu mengandung dua hal, yakni: kuantitas atau nilai dan satuan. Sesuatu yang memiliki kuantitas dan satuan tersebut dinamakan besaran. Berbagai besaran yang kuantitasnya dapat diukur, baik secara langsung maupun tak langsung, disebut besaran fisis, misalnya panjang dan waktu. Tetapi banyak juga besaran-besaran yang dikategorikan non-fisis, karena kuantitasnya belum dapat diukur, misalnya cinta, bau, dan rasa(Wasis,2004).
Besaran panjang yang merupakan jarak antara 2 titik dapat di ukur dengan alat ukur seperti mistar, jangka sorong dan micrometer sekrup.Pengukuran besaran panjang dapat dilakukan dengan menggunakan berbagaia alat ukur , misalnya menggunakan mistar,jangka sorong, atau dapat pula dengan menggunakan micrometer sekrup(Supiyanto,2004;19).
?     Mengukur Dengan Menggunakan  Mistar
Pada pengukuran dengan menggunakan mistar yang diperhatikan  adalah titik nol mistar harus tepat pada salah satu ujung benda yang diukur.Pembacaan skala pada mistar harus tegak lurus pada skala yang ditunjuk, agar tidak terjadi kesalahan.
  
   
Mistar  biasanyadigunakan untuk mengukur benda yang panjangnya kurang dari  50 cm atau 100 cm.Tingkat ketelitiannya 0,5 mm ( ½ x 1 cm). Satuan yang tercantum dalam mistar adalah cm, mm, serta inchi.
Contoh pengukuran dengan mistar:             
Panjang balok di atas adalah 3,2 cm atau 32 mm(Wasis,2004).
?     Mengukur dengan Menggunakan Jangka Sorong
Setiap jangka sorong memiliki skala utama (SU) dan skala bantu atau skala nonius (SN). Pada umumnya, nilai skala utama = 1 mm, dan banyaknya skala nonius tidak selalu sama antara satu jangka sorong dengan jangka sorong lainnya.. Sebuah jangka sorong baru dapat digunakan jika nilai skala terkecilnya (NST) telah diketahui, yaitu dengan menggunakan persamaan :
Atau
?  Mengukur dengan Menggunakan Micrometer Sekrup
·               Digunakan untuk mengetahui ukuran panjang yang sangat kecil
·               Mempunyai tingkat ketelitian sampai dengan 0,01 mm
(Kristanta,2009).
Mikrometer sekrup memiliki dua bagian skala mendatar (SM) sebagai skala utama dan skala putar (SP) sebagai skala nonius.NST micrometer sekrup dapat ditentukan dengan cara yang sama prinsipnya dengan jagka sorong, yaitu :
            Atau   
                              
                Dengan N = jumlah skala nonius. Hasil pengukuran dari suatu micrometer dapat ditentukan dengan cara membaca penunjukan bagian ujung skala putar terhadap skala utama dan garis horisontal (yag membagi dua skala utama menjadi skala bagian atas dan bawah) terhadap skala putar.Pada umumya micrometer sekrup memiliki NST skala mendatar (skala utama) 0,5 mm dan jumlah skala putar (nonius) sebanyak 50 skala(Anshar,2009)
? Mengukur dengan Menggunakan Neraca
Setiap benda tersusun dari materi. Jumlah materi yang terkandung dalam masing-masing benda disebut massa benda. Dalam SI, massa menggunakan satuan dasar kilogram (kg).Massa benda diukur dengan menggunakan neraca lengan, salah satu jenis neraca lengan yaitu neraca lengan Ohaus tipe 311 gram.
Dibawah ini contoh pembacaan skala pada neraca lengan ohauss tipe 311 gram:
               
                                 0 g                              40 g               7 g            0,52 g
             
                  Sehingga terbaca (0 + 40 + 7 + 0,52 ) g = 47,52g
Neraca ini mempunyai 4 lengan, masing- masing lengan mempunyai batas ukur dan NST yang berbeda –beda. Untuk menggunakan neraca ini terlebih dahulu ditentukan NST masing – masing lengan kemudian dijumlahkan dengan penunjukan lengan neraca yang digunakan(Retno,2004).
?    Mengukur dengan Menggunakan Stopwatch

Sebenarnya ada banyak alat ukur waktu yang tersedia, seperti jam tangan, jam dinding, jam bandul dan sebagainya. Namun yang sering digunakan di laboratorium adalah stopwatch. Ada banyak jenis stopwatch dengan berbagai ketelitian, mulai dari 1 detik, 1/10 detik, sampai 1/100 detik. Ada juga stopwatch digital dengan ketelitian yang sangat tinggi, misalnya fasilitas stopwatch di handphone(Kristanta,2009).
Pada pengukuran waktu dengan menggunakan stopwatch, pembacaan skalanya dimulai dengan penunjukan jarum menit kemudian jarum detik / sekon. Pembacaan dan penulisan jarum detik dapat dilakukan hingga setengah skala terkecil. Adapun cara penggunaan stopwatch dengan  terlebih  dahulu memastikan bahwa semua jarum stopwatch menunjuk pada angka nol.Bila belum,melakukan pengenolan dengan cara menekan tombol pengenol (biasanya berwarna hitam / tombol tengah) dan pada saat pengukuran dimulai ,tekan tombol start (biasanya berwarna hijau, tombol kanan). Dan ketika pengukuran selesai tekan tombol stop ( biasanya berwarna merah, tombol kiri)(Wasis,2004).

















BAB III
METODE PERCOBAAN

A.    Alat dan Bahan                     :
Alat :
? Mistar  30 cm
? Jangka sorong
? Mikrometer sekrup
? Neraca lengan (neraca Ohaus 311 gram)
? Stopwatch
Bahan :
? Balok  kecil, 1 buah
? Lempeng logam / koin,1 buah
? Beban
? bahan bacaan
B.      PROSEDUR PERCOBAAN
             1. Mengukur Volume Balok Kecil
                 a. Menggunakan Mistar
    1.Siapkan mistar dan balok kecil yang akan diukur volumenya.
    2.Ukur panjang, lebar, dan tinggi balok menggunakan mistar. Dalam
      pengukuran perhatikan titik nol mistar harus tepat pada salah satu  
     ujung balok.
  3.Perhatikan penunjukan skala pada mistar yang berimpit dengan  
     ujung balok lainnya.Pembacaan skala pada mistar harus tegak lurus
     pada skala yang ditunjuk, agar tidak terjadi kesalahan.
4. Dari data yang diperoleh hitung pula volume balok.


            b. Menggunakan Jangka Sorong.
1.   Ambil sebuah jangka sorong kemudian tentukan nilai skala utama dan hitung jumlah skala noniusnya.
2. Tentunkan NST dari  jangka sorong yag anda gunakan.
3. Ukurlah panjang, lebar,dan tebal dari balok tersebut.
4.Catatlah hasilnya pada hasil pengamatan. Dari data yang diperoleh hitung pula volume balok.
2.Mengukur Ketebalan Lempeng Logam dengan Micrometer Sekrup
                a.   Ambil sebuah mikrometer kemudian tentukan nilai skala utama dan hitung jumlah skala noniusnya.Tentunkan NST mikrometer yang anda gunakan.
               b.   Letakkan benda di antara kedua poros penjepit, kemudian putarlah  silinder pemutar perlahan-lahan hingga ujung kedua poros  menyentuh permukaan benda, seperti terlihat pada gambar  dibawah:
  c.Setelah ujung kedua poros menyentuh permukaan benda, putarlah skrup pemutar (ratchet) secara perlahan-lahan hingga terdengar bunyi “klik”. Bunyi itu menandakan bahwa kedua ujung poros telah menjepit benda secara akurat( jangan memaksa menggerakkan poros penjepit menggunakan silinder pemutar ketika ujung poros telah menjepit benda, hal ini dapat merusak sistem ulir di dalam mikrometer skrup)
 d.Bacalah penunjukan skala yang ditunjukkan oleh mikrometer skrup,.catat hasilnya  pada hasil pengamatan.
3.Mengukur Massa Benda Menggunakan Neraca Lengan Tipe Ohaus 311 gram
a.Tentukan NST masing – masing lengan neraca Ohauss 311 gram.
b.Pastikan dahulu bahwa neraca dalam keadaan setimbang. Bila belum setimbang, buatlah setimbang dulu dengan cara memutar sekrup peyeimbang/pengenol.
c.Letakkan benda di atas piring neraca.
d.Geserlah anak timbangan, dimulai dari yang paling besar, berikutnya yang kecil-kecil, hingga neraca setimbang kembali.
       e.Bacalah skala yang ditunjukkan oleh neraca, dan catat hasilnya pada hasil pengamatan.
4. Mengukur Waktu Menggunakan Stopwatch
a.Ambil stopwatch. Pastikan dahulu bahwa semua jarum stopwatch  menunjuk pada angka nol,(bila belum tekan tombol pengenol).
b.Minta teman anda untuk membaca naskah yang telah disediakan bersamaan dengan menekan tombol start.
c.Tekan tombol stop bersamaan dengan berakhirnya naskah yang dibaca oleh teman anda.
d.Bacalah skala yang ditunjuk oleh stopwatch, mulailah  dengan penjunjukkan jarum menit kemudian jarum  detik/sekon.Pembacaan dan penulisan jarum detik dapat dilakukan hingga setengah skala terkecil. Catat hasilnya pada hasil pengamatan.




























BAB 1V
HASIL PENGAMATAN

1.  Untuk Percobaan Mengukur Volume Balok Kecil
ALAT UKUR
PANJANG (cm)
LEBAR
(cm)
TEBAL (cm)
VOLUME
( )
NSTALAT                    (cm)
MISTAR
13,1
2,4
2,5
78,6

JANGKA SORONG

13,10

2,47

2,63

85,1

0,005

2. Untuk Percobaan Mengukur Ketebalan Lempeng Logam dengan Micrometer Sekrup
PENUNJUKAN SU (mm)
PENUJUKAN SN (mm)
NST ALAT
(mm)
TEBAL BENDA(mm)
SU
SN
 2
0,005
 0,5
0,01
2,05

3.   Untuk Pengukuran Massa dengan Neraca Ohauss  311 g
Nst lengan 1        =  100  gram
Nst lengan 2        =  10    gram
Nst lengan 3        =   1     gram
Nst lengan 4        =  0,01 gram
PENUNJUKAN LENGAN 1 (gram)

PENUNJUKAN LENGAN II (gram)
PENUNJUKAN LENGAN III (gram)
PENUNJUKAN LENGAN  IV
(gram)
MASSA BENDA (gram)

0

50

0

0,1

   50,1

4. Untuk Pengukuran Waktu Menggunakan Stopwatch
    Waktu yang dibutuhkan =……28,4..sekon
BAB V
PENUTUP

A. KESIMPULAN
            Berdasarkan percobaan yang dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Hasil pengukuran dengan menggunakan  mistar dapat ditentukan dengan cara melihat penunjukan skala yang berimpit dengan salah satu ujung benda yang diukur,dimana titk nol mistar harus tepat pada ujung benda laainnya.
2. Hasil pengukuran dengan menggunakan jangka sorong dapat ditentukan dengan cara membaca penunjukan angka 0 pada skala nonius terhadap skala utama dan skala nonius yang keberapa yang tepat berimpit atau segaris dengan skla utama.
3. Hasil pengukuran dengan menggunakan micrometer dapat ditentukan dengan cara membaca penunjukan bagian ujung skala putar terhadap skala utama dan garis horizontal (yang membagi 2 skala utama ) terhadap sumbu putar.
4.Hasil pengukuran dengan menggunakan neraca ohauss 311 gram dapat ditentukan dengan cara terlebih dahulu menentukan NST alat masing – masing lengan neraca yang digunakan.
5.Hasil pengukuran dengan menggunakan stopwatch dapat ditentukan dengan cara membaca skala mulai dari penunjukan jarum menit kemudian jarum detik atau sekon.



B. SARAN
1. Sebaiknya pada pengukuran menggunakan mistar pembacaan skala dilakukan secara  tegak lurus pada skala yang ditunjuk, untuk mengurangi kesalahan.
2.  Sebaiknya dalam melakukan praktikum, praktikan lebih berhati – hati dalam menggunakan alat ukur, untuk menghindari kerusakan.
3. Hendaknya dalam melakukan pengukuran dilakukan secara berulang – ulang(pengukuran berganda) untuk mendapatkan hasil pengukuran yang lebih akurat.





























DAFTAR  PIUSTAKA


Anshar,Romadhon.2009.Jangka Sorong dan Mikrometer. http ://www. romadhonssite.blogspot.com"><img//diakses 13 Februari 2010

Kristanta,Arif. 2009.Asyiknya Belajar Fisika SMP.http://Blog at WordPress.com.//diakses 13 februari 2010.

Retno,Hasanah.2004.Modul Fisika 01 Sistem Satuan dan Pengukuran.Jakarta:BPPK.

Supiyanto.2004.Fisika SMA Untuk SMA Kelas X.Jakarta:Erlangga.

Wasis.2004.Sistem Satuan dan Pengukuran .Jakarta:BPPK

laporan praktikum pengenalan dan pemeliharaan mikroskop

PENGENALAN DAN PENGGUNAAN MIKROSKOP DAN
SEL-SEL PENYUSUN JARINGAN TUMBUHAN
<!--[if gte vml 1]> <![endif]--><!--[if !vml]--><!--[endif]-->
LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI UMUM
OLEH
NAMA : ANDI BAU KARMILA
NIM :F1BI12006
KELOMPOK : 3

UPT LABORATORIUM BIOLOGI DASAR
UNIVERSITAS HALUOLEO
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
PROGRAM STUDI S-1 FISIKA
KENDARI
OKTOBER, 2012
BAB I
PENDAHULUAN
<!--[if !supportLists]-->1.1 <!--[endif]-->Latar Belakang
Pengenalan dan penggunaan mikroskop
Antony Van Leuwenhoek orang yang pertama kali menggunakan mikroskop walaupun dalam bentuk sederhana pada bidang mikrobiologi. Kemudian pada tahun 1600 Hans dan Z Jansen telah menemukan mikroskop yang lebih maju dengan nama mikroskop ganda. Mikroskop berasal dari kata mikro yang berarti kecil dan scopium (penglihatan). Mikroskop adalah suatu benda yang berguna untuk memberikan bayangan yang diperbesar dari benda-benda yang terlalu kecil untuk dilihat dengan mata telanjang. Mikroskop terdiri dari beberapa bagian yang memiliki fungsi tersendiri.
Mikroskop pada prinsipnya terdiri dari dua lensa cembung yaitu sebagai lensa objektif (dekat dengan mata) dan lensa okuler (dekat dengan benda). Baik objektif maupun okuler dirancang untuk perbesaran yang berbeda. Lensa objektif biasanya dipasang pada roda berputar, yang disebut gagang putar. Setiap lensa objektif dapat diputar ke tempat yang sesuai dengan perbesaran yang diinginkan. Sistem lensa objektif memberikan perbesaran mula-mula dan menghasilkan bayangan nyata yang kemudian diproyeksikan ke atas lensa okuler. Bayangan nyata tadi diperbesar oleh okuler untuk menghasilkan bayangan maya yang kita lihat.
Kebanyakkan mikroskop laboratorium dilengkapi dengan tiga lensa objektif : lensa 16 mm, berkekuatan rendah (10 X); lensa 4 mm, berkekuatan kering tinggi (40-45X); dan lensa celup minyak 1,8 mm (97-100X). Objektif celup minyak memberikan perbesaran tertinggi dari ketiganya. Lensa okuler terletak pada ujung atas mikroskop, terdekat dengan mata. Lensa okuler biasanya mempunyai perbesaran: 5X, 10X, 12,5X dan 15X. Lensa okuler terdiri dari lensa plankonveks yaitu lensa kolektif dan lensa mata.
Sel-sel penyusun jaringan tumbuhan
Sel adalah bagian terkecil dari makhluk hidup. Ukuran sel sangat kecil sehingga untuk melihatnya harus menggunakan alat yang disebut mikroskop. Struktur sel pertama kali diamati oleh seorang berkebangsaan Inggris yang bernama Robert Hooke (1635-1703). Melalui pengamatannya terhadap gabus tutup botol tampak susunan kotak kecil yang teratur. Kotak kecil tersebut dalam bahasa latin disebut cellulae.
Tahun 1829 oleh Hertwig diajukan teori protoplasma, sel adalah kumpulan substansi hidup yang disebut protoplasma dengan di dalamnya mengandung inti yang disebut nukleus dan diluarnya dibatasi oleh dinding sel. Ada beberapa organisme yang struktur selnya tidak jelas, tetapi terdiri atas protoplasma. Berdasarkan jumlah sel yang menyusunnya, tubuh makhluk hidup ada yang tersusun atas satu sel (uniseluler) dan banyak sel (multiseluler). Pada sel tumbuhan, di sebelah luar membran sel terdapat dinding sel yang relatif tebal.
<!--[if !supportLists]-->1.2 <!--[endif]-->Tujuan Praktikum
Praktikum kali ini bertujuan untuk mengenali bagian-bagian mikroskop, memahami fungsi dan terampil menggunakannya, mengamati susunan jaringan-jaringan dan bentuk-bentuk sel pada tumbuhan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Mikroskop pertama kali ditemukan oleh Antony Van Leuwenhoek (1632-1723) yang berkebangsaan Belanda, dengan mikroskop yang masing-masing terdiri atas lensa tunggal hasil gosokan rumah yang ditanam dalam kerangka kuningan dan perak. Kekuatan perbesaran tertinggi yang dapat dicapainya hanyalah 200-300 kali, mikroskop ini sedikit sekali persamaannya dengan mikroskop cahaya majemuk yang ada sekarang (Purba, 1999).
Mikroskop pada prinsipnya adalah alat pembesar yang terdiri dari dua lensa cembung yaitu sebagai lensa objektif (dekat dengan mata) dan lensa okuler (dekat dengan benda). Baik objektif maupun okuler dirancang untuk perbesaran yang berbeda. Lensa objektif biasanya dipasang pada roda berputar,yang disebut gagang putar (Volk, 1984).
Bila kita ingin perbesaran sudut yang lebih besar daripada pembesaran kaca pembesar, oleh karena itu keberadaan mikroskop sangat diperlukan. Benda O yang akan diteliti diletakkan pada titik fokus pertama F dari lensa objektif, yang membentuk bayangan nyata dan diperbesar yaitu I. Bayangan ini terletak tepat pada titik fokus pertama F1 dari okuler yang membentuk bayangan semu dari I pada I.
Macam-macam mikroskop, yaitu :
<!--[if !supportLists]-->a. <!--[endif]-->Mikroskop Cahaya
Merupakan mikroskop yang mempunyai bagian – bagian yang terdiri dari alat-alat yang bersifat optik, berguna untuk mengamati benda-benda atau preparat yang transparan. Suatu variasi dari mikroskop cahaya biasa ialah mikroskop ultraviolet, karena cahaya ultraviolet tak dapat dilihat oleh mata manusia maka bayangan benda harus direkam pada piringan peka cahaya. Mikroskop ini menggunakan lensa kuarsa.
<!--[if !supportLists]-->b. <!--[endif]-->Mikroskop Pendar
Mikroskop ini dapat digunakan untuk mendeteksi benda asing atau antigen dalam jaringan.
<!--[if !supportLists]-->c. <!--[endif]-->Mikroskop Medan Gelap
Mikroskop ini digunakan untuk mengamati bakteri hidup, khususnya bakteri yang begitu tipis yang hampir mendekati batas daya pisah mikroskop majemuk.
d. Mikroskop Fasekontras
Mikroskop ini digunakan untuk mengamati benda hidup dalam keadaan alaminya, tanpa menggunakan bahan pewarna. Pada bawah meja objeknya dan pada lensa objektifnya terpasang perlengkapan fase kontras.
e. Mikroskop Elektron
Banyak komponen sel seperti mitokondria, ribosom dan retikulum endoplasma yang begitu kecil tidak bisa dilihat secara detail dengan mikroskop biasa. Mereka hanya bisa melihat dengan mikroskop elektron (Kamajaya, 1996).
<!--[if !supportLists]-->d. <!--[endif]-->Mikroskop Elektron Pemayaran
Mikroskop ini menggunakan berkas elektron, tetapi yang seharusnya ditransmisikan secara serempak ke seluruh medan elektron difokuskan sebagai titik yang sangat kecil dan dapat digerakkan maju mundur pada spesimen (Winatasasmita, 1986).
Sel adalah segumpal protoplasma yang berinti, sebagai individu yang berfungsi menyelenggarakan seluruh aktivitas untuk kebutuhan hidupnya. Sel itu setelah tumbuh dan berdeferensiasi, akan berubah bentuknya sesuai dengan fungsinya, ada yang menjadi epidermis berfungsi untuk melindungi sel-sel sebelah dalamnya ada yang menjadi tempat penyediaan makanan, ada yang berfungsi menjadi tempat persediaan makanan dan lain-lain (Yekti, 1994).
Ada tiga keistimewaan yang khas pada sel tumbuhan : dinding sel dengan selulosa, vakuola (yang memberi tekanan dan memperbesar volume serta luas permukaan meskipun dengan protoplasma sedikit), dan plastida, khususnya kloroplas. Vakuola dapat ditemui pada anggota kelima dunia, namun vakuola besar di pusat sel ada pada hampir semua sel tumbuhan, cendawan, dan beberapa protista. Kloroplas hanya terdapat pada tumbuhan dan beberapa protista (bergantung pada golongannya) (Suwasono, 1987).
Sel sendiri sebagai dasar menyusun suatu organisme yang terdiri dari inti (nukleus) yang terbungkus oleh membran atau struktur serupa tanpa membran. Tidak ada kehidupan dalam satuan yang lebih kecil dari pada sel. Sel terbentuk hanya dengan pembelahan sel-sel sebelumnya. Sel dicirikan oleh adanya molekul makro khusus, seperti pati dan selulosa, yang terjadi dari ratusan sampai ribuan gula atau molekul lain selain itu sel juga dapat dicirikan oleh adanya molekul makro seperti protein dan asam nukleat baik DNA atau RNA yang tersusun sebagai rantai yang terdiri dari ratusan sampai ribuan molekul. Pada tumbuhan istilah sel meliputi protoplasma dan dinding sel yang ada sedangkan pada organisme multi sel yang ada membentuk struktur kompleks yaitu jaringan dan organ. Sel pada organisme multi sel tidak sama satu dengan lainnya tetapi masing-masing mempunyai struktur dan fungsi yang berbeda. Pada awalnya struktur dinding sel yang ada pada tumbuhan dianggap sebagai sel mati hasil ekskresi zat hidup dalam sel akan tetapi baru-baru ini makin banyak ditemui bukti bahwa ada satuan organik yang ada diantara protoplasma dan dinding, khususnya pada sel muda (Kamajaya, 1996).
Meskipun antara sel hewan dan sel tumbuhan berbeda namun terdapat persamaan-persamaan dasar tertentu mengenai sifat, bentuk, dan fungsi dari bagian sel tersebut. Secara umum bagian-bagian sel tersebut adalah membran sel, sitoplasma, mitokondria, retikulum endoplasma, aparatus golgi, lisosom, plastida, kloroplas, sentrosom, ribosom, vakuola, inti sel, membran inti, mikrofilamen, dan dinding sel (Anshory, 1984).
Sel tumbuhan mempunyai bentuk yang bermacam-macam. Ada yang berbentuk peluru, prisma, dan memanjang seperti rambut atau seperti ular. Sel tumbuhan mempunyai dua bagian pokok yang berbeda dari hewan yaitu vakuola, plastida dan dinding sel. Vakuola dan plastida merupakan bagian hidup dari sel tumbuhan dan disebut protoplas. Sedangkan dinding sel yang berfungsi untuk melindungi isi sel atau lumen yang ada di protoplasma disebut bagian sel yang mati. Hal ini terlihat pada sel gabus tumbuhan yang tergolong sel mati karena hanya memiliki inti sel dan sitoplasma, sehingga ruang antar selnya kosong. Bentuk sel gabus heksagonal, tersusun rapat antara satu dan lainnya (Pramesti, 2000).
Meskipun antara sel hewan dan sel tumbuhan berbeda namun terdapat persamaan-persamaan dasar tertentu mengenai sifat, bentuk, dan fungsi dari bagian sel tersebut. Secara umum bagian-bagian sel tersebut adalah membran sel, sitoplasma, mitokondria, retikulum endoplasma, aparatus golgi, lisosom, plastida, kloroplas, sentrosom, ribosom, vakuola, inti sel, membran inti, mikrofilamen, dan dinding sel (Suwasono, 1987).
BAB III
METODE PRAKTIKUM
<!--[if !supportLists]-->3.1 <!--[endif]-->Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Rabu, 31 Oktober 2007 pukul 08.00-10.00, bertempat di Laboratorium Dasar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru.
<!--[if !supportLists]-->3.2 <!--[endif]-->Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah: Mikroskop cahaya binokuler dan monokuler, Kaca benda, kaca penutup, pinset, pipet tetes, dan silet tajam.
Bahan-bahan yang digunakan adalah penampang melintang sel gabus batang ubi kayu (Manihot utilissima), rambut buah kapuk (Ceiba pentandra) dan kapas (Gossypium sp.), penampang melintang daun karet (Ficus elastica), daun Hydrilla verticillata, selaput bagian dalam umbi lapis bawang merah (Allium cepa), dan akuades.
<!--[if !supportLists]-->3.3 <!--[endif]-->Prosedur Kerja
<!--[if !supportLists]-->A. <!--[endif]-->Pengenalan Mikroskop
1. Mencari bidang penglihatan
<!--[if !supportLists]-->a. <!--[endif]-->Tabung dinaikkan menggunakan makrometer (pemutar kasar), sehingga lensa objektif tidak membentur meja atau panggung bila revolver diputar-putar.
<!--[if !supportLists]-->b. <!--[endif]-->Lensa objektif di tempatkan pembesaran lemah (4 X atau 10 X) dengan memutar revolver sampai berbunyi klik (posisinya satu poros dengan lensa okuler).
<!--[if !supportLists]-->c. <!--[endif]-->Membuka diafragma sebesar-besarnya dengan menarik tangkainya ke belakang.
<!--[if !supportLists]-->d. <!--[endif]-->Mengatur letak cermin sedemikian rupa ke arah cahaya, sehingga terlihat lingkaran (lapangan pandang) yang sangat terang di dalam lensa okuler. Mikroskop siap digunakan.
<!--[if !supportLists]-->2. <!--[endif]-->Mencari bayangan sediaan
<!--[if !supportLists]-->a. <!--[endif]-->Menaikkan tabung mikroskop menggunakan makrometer, sehingga jarak antara lensa objektif dengan permukaan meja ± 3 cm.
<!--[if !supportLists]-->b. <!--[endif]-->Meletakkan sediaan yang akan diamati di tengan-tengah lubang meja benda, menggunakan penjepit sediaan agar tidak tergeser.
<!--[if !supportLists]-->c. <!--[endif]-->Memutar makrometer ke belakang sampai penuh (hati-hati), sambil menempatkan roda sediaan tepat di bawah lensa objektif, hingga jarak antara ujung lensa objektif dengan permukaan atas kaca penutup hanya ± 1 mm.
<!--[if !supportLists]-->d. <!--[endif]-->Membidik mata ke lensa okuler sambil memutar makrometer ke depan searah jarum jam secara hati-hati sampai tampak bayangan yang jelas.
<!--[if !supportLists]-->e. <!--[endif]-->Memutar revolver dan lensa objektif yang sesuai untuk mendapatkan pembesaran yang kuat. Kemudian memainkan fungsi mikrometer secara perlahan dan hati-hati. (Bila menggunakan lensa objektif 100x, maka di atas sediaan perlu ditetesi minyak imersi dahulu).
<!--[if !supportLists]-->3. <!--[endif]-->Memelihara Mikroskop
<!--[if !supportLists]-->a. <!--[endif]-->Mengangkat dan membawa mikroskop harus selalu dalam posisi tegak, dengan satu tangan memegang erat pada lengan mikroskop dan tangan yang lain menyangga pada dasar atau kakinya.
<!--[if !supportLists]-->b. <!--[endif]-->Mencondongkan posisi tabung, cukup dilakukan dengan memutar engsel penggerak sebagai titik putar. Menegakkan kembali setelah selesai.
<!--[if !supportLists]-->c. <!--[endif]-->Mengusahakan agar lensa objektif lemah (4x atau 10x) berada satu poros di bawah lensa okuler. Mengatur kedudukan tabung sedemikian rupa sehingga ujung lensa objektif lemah berjarak ± 1cm dari atas meja benda.
<!--[if !supportLists]-->d. <!--[endif]-->Mengatur kedudukan penjepit sediaan dengan rapi dan cermat pada posisi tegak agar debu tidak banyak menempel.
<!--[if !supportLists]-->e. <!--[endif]-->Membersihkan sisa minyak imersi dengan menggunakan cairan Xilol sesegera mungkin setelah pengamatan dengan menggunakan minyak imersi telah berakhir, dan mengeringkan dengan kain lap yang bersih.
<!--[if !supportLists]-->f. <!--[endif]-->Membersihkan lensa atau bagian lainnya dengan kain lap yang bersih dari bahan halus (flenel) setiap akan menggunakan mikroskop.
<!--[if !supportLists]-->4. <!--[endif]-->Pengukuran Mikroskopis atau Mikrometri
Untuk mengetahui ukuran objek yang diamati dengan mikroskop dapat dilakukan dengan menggunakan alat bantu yang disebut Mikrometer Objektif dan Mikrometer Okuler.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
<!--[if !supportLists]-->4.1 <!--[endif]-->Hasil Pengamatan
A. Pengenalan Mikroskop
<!--[if gte vml 1]><![endif]--><!--[if !vml]--><!--[endif]-->
Gambar Mikroskop
Keterangan gambar mikroskop, yaitu :
<!--[if !supportLists]-->1. <!--[endif]-->Lensa okuler
<!--[if !supportLists]-->2. <!--[endif]-->Tabung atau tubus
<!--[if !supportLists]-->3. <!--[endif]-->Makrometer atau coarse adjust
<!--[if !supportLists]-->4. <!--[endif]-->Revolver
<!--[if !supportLists]-->5. <!--[endif]-->Lensa obyektif
<!--[if !supportLists]-->6. <!--[endif]-->Mikrometer
<!--[if !supportLists]-->7. <!--[endif]-->Lengan atau tangkai mikroskop
<!--[if !supportLists]-->8. <!--[endif]-->Klip atau penjepit
<!--[if !supportLists]-->9. <!--[endif]-->Diafragma
<!--[if !supportLists]-->10. <!--[endif]-->Meja objektif
<!--[if !supportLists]-->11. <!--[endif]-->Sekrup engsel
<!--[if !supportLists]-->12. <!--[endif]-->Kondensor
<!--[if !supportLists]-->13. <!--[endif]-->Sekrup kondensor
<!--[if !supportLists]-->14. <!--[endif]-->Cermin
<!--[if !supportLists]-->15. <!--[endif]-->Alas dasar kaki
B. Pengenalan Sel Penyusun Jaringan Tumbuhan
No
Sel Tumbuhan
Keterangan
1
Sel kapas
a. Torsi
b. Rongga sel
c. Ruang antar sel
d. Dinding sel
Perbesaran 40 kali
Mikroskop elektron
2
Sel kapuk
a. Dinding sel
b. Rongga sel
Perbesaran 40 kali
Mikroskop elektron
3
Selaput bagian dalam umbi lapis bawang merah
a. Dinding sel
b. Inti sel
c. Sitoplasma
Perbesaran 40 kali
Mikroskop elektron
4
Hydrilla verticillata
a. Dinding sel
b. Inti sel
Perbesaran 40 kali
Mikroskop elektron
5
Sel gabus batang ubi kayu
a. Dinding sel
Perbesaran 40 kali
Mikroskop elektron
6
Penampang melintang daun Ficus Elastica atau daun karet
a. Lapisan kutikula
b. Epidermis
c. Jaringan tiang ganda
d. Xilem
e. Stomata
f. Floem
g. Jaringan bunga karang
h. Epidermis bawah
Perbesaran 40 kali
Mikroskop elektron
4.2 Pembahasan
Mikroskop cahaya merupakan suatu alat yang mempunyai bagian-bagian tertentu, yaitu terdiri dari alat-alat optik dan non optik yang digunakan untuk mengamati benda-benda yang mikroskopis dan transparan. Mikroskop cahaya mempunyai keuntungan yaitu hemat terhadap penggunaan listrik. Daya pisah adalah kemampuan mikroskop untuk secara jelas dan terpisah dalam membedakan dua titik yang berdekatan yang tanpa mikroskop terlihat sebagai satu titik dan dikatakan sebagai jarak terkecil diantara dua titik yang terlihat sebagai dua titik bukannya satu titik. Hal inilah yang membedakan mikroskop canggih dari mikroskop cahaya.
Dari hasil percobaan dan penelitian yang telah dilaksanakan maka diperoleh hasil yaitu, mikroskop terdiri atas bagian-bagian yang masing-masing bagian tersebut mempunyai fungsi tersendiri. Lensa okuler berfungsi untuk memperbesar bayangan yang bersifat maya dan tegak. Lensa objektif berfungsi untuk mengatur pembesaran ukuran untuk kekuatan 4x, 10x, 40x dan 100x. Kondensor berfungsi untuk mengatur bayangan yang akan diamati atau untuk menaikkan dan menurunkan kondensor. Reflektor berfungsi untuk menerima cahaya yang masuk atau dapat memperjelas cahaya yang akan datang. Tubuh mikroskop berfungsi untuk tempat terjadinya proses bayangan antara lensa objektif dengan lensa okuler. Makrofokus berfungsi untuk mengatur jarak okuler objektif sehingga tepat fokusnya secara kasar dan jelas. Mikrofokus berfungsi untuk mengatur jarak okuler sehingga tepat fokusnya secara tajam. Revolver berfungsi sebagai tempat lensa objektif. Meja objek berfungsi untuk meletakkan preparat yang akan diamati. Penjepit berfungsi untuk memperkokoh kedudukan preparat agar tidak goyang. Pengatur kondensor berfungsi sebagai pengatur letak lensa kondensor terhadap preparat. Pemegang(lengan) berfungsi untuk memegang mikroskop. Diafragma berfungsi mengatur cahaya yang masuk dalam mikroskop. Kaki atau dasar berfungsi untuk memperkokoh kedudukan mikroskop. Sekrup engsel berfungsi menyesuaikan mikroskop yang baik.
Satuan terkecil dalam tumbuhan adalah sel, suatu wadah kecil berisi substansi hidup, yaitu protoplasma, dan diselubungi oleh dinding sel. Dalam setiap sel hidup berlangsung proses metabolisme. Dinding sel melekat pada yang lain dengan adanya perekat antar sel. Pengelompokkan sel seperti itu, yang berbeda struktur atau fungsinya atau keduanya dari kelompok sel lain, disebut jaringan. Jaringan secara umum terdiri dari sel-sel yang sama bentuk serta fungsinya disebut jaringan sederhana. Jaringan yang terdiri atas lebih dari satu macam sel namun asalnya sama disebut jaringan kompleks majemuk.
Sel bawang merah (Allium cepa) berbentuk heksagonal, di dalamnya terdapat protoplasma sehingga sel bawang merah dinyatakan hidup dengan warna merah muda. Perbesaran yang dilakukan sebesar 40 x dengan menggunakan mikroskop elektron. Sel gabus (Manihot utilissima) yang dipotong melintang tampak berbentuk heksagonal, sel yang satu dengan sel yang lainnya tersusun rapi dan rapat, di dalam dinding sel terlihat kosong. Hal ini menyatakan bahwa sel gabus adalah sel mati. Untuk mengamati sel gabus ini praktikan harus mengiris gabus secara melintang dan tipis sehingga preparat dapat ditembus cahaya dan terlihat jelas melalui mikroskop elektron dengan perbesaran 40 x. Warna dari sel gabus sendiri agak coklat muda. Daun Hydrilla verticillata adalah tumbuhan air yang berklorofil, sehingga terlihat berwarna hijau, selnya berbentuk persegi panjang susunan bata dalam pembuatan bangunan, di dalamnya terdapat bintik-bintik berwarna hijau yang disebut klo. Sel dari daun hydrilla ini akan tampak jelas apabila dilihat melalui mikroskop elektron. Sel kapas (Gossypium sp) memiliki batas-batas yang jelas yang disebut sigma, selain itu sel kapas juga terdapat torsi. Di dalam sel terlihat kosong, ini menandakan bahwa sel kapas adalah sel mati. Perbesaran yang digunakan untuk mengamati sel kapas adalah 40 x. Warna dari sel kapas itu sendiri kehitaman. Sel kapuk (Ceiba pentandra) memiliki batas-batas yang jelas, sel kapuk berbentuk seperti tabung panjang yang kosong. Perbesaran yang digunakan untuk mengamati adalah 40 x. Warna dari sel kapuk sendiri agak kehitaman, bening. Sel dari penampang melintang daun Ficus elastica Sel gabus (Manihot utilissima) yang dipotong melintang tampak berbentuk heksagonal, berwarna hijau, sel yang satu dengan sel yang lainnya tersusun rapat, di dalam dinding sel tidak terlihat kosong. Untuk mengamati sel ini praktikan harus mengiris daun Ficus elastica secara melintang dan tipis sehingga preparat dapat ditembus cahaya dan terlihat jelas melalui mikroskop elektron. Perbesaran yang digunakan untuk mengamati adalah 40 x.
BAB V
PENUTUP
<!--[if !supportLists]-->5.1 <!--[endif]-->Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diperoleh dari praktikum kali ini adalah sebagai berikut:
<!--[if !supportLists]-->1. <!--[endif]-->Mikroskop adalah suatu benda yang berguna untuk memberikan bayangan yang diperbesar dari benda-benda yang terlalu kecil untuk dilihat dengan mata telanjang.
<!--[if !supportLists]-->2. <!--[endif]-->Sel tumbuhan memiliki bentuk dinding sel tetap yang terdiri dari selulosa.
<!--[if !supportLists]-->3. <!--[endif]-->Sel adalah satuan massa protoplasma yang terbungkus di dalam suatu selaput, yang dikenal sebagai membran plasma, dan sering terbungkus oleh suatu dinding yang dapat dikatakan tahan lama.
<!--[if !supportLists]-->4. <!--[endif]-->Sel terdiri atas sitoplasma, membran sel, dan organel–organel yang ada di dalam sitoplasma.
<!--[if !supportLists]-->5.2 <!--[endif]-->Saran
Sebaiknya di dalam pelaksanaan praktikum kali ini waktu yang telah ditetapkan digunakan sebaik-baiknya sehingga praktikum dapat berjalan sesuai dengan apa yang diinginkan. Selain itu kerja sama antara asisten dengan praktikan harus ditingkatkan, terutama dalam membimbing praktikan agar praktikan dapat dengan benar dan sungguh-sungguh dalam melaksanakan praktikum.
DAFTAR PUSTAKA
Anshory, I. 1984. Biologi umum. Genesa Exact. Bandung.
Kamajaya.1996. Sains Biologi. Ganesa Exact. Bandung.
Pramesti, Hening Tjaturina. 2000. Mikroskop dan Sel FK. Unlam. Banjarbaru.
Purba, M dan kawan-kawan. 1999. Kimia. Erlangga. Jakarta.
Sowasono, Haddy. 1987. Biologi Pertanian. Rajawali Press. Jakarta.
Volk dan Wheeler. 1984. Mikrobiologi Dasar Edisi Kelima Jilid I. Erlangga. Jakarta.
Winatasasmita, Djamhur. 1986. Fisiologi Hewan dan Tumbuhan. Universitas Indonesia. Jakarta.
Yekti, S. 1994. Biologi Umum. Erlangga. Jakarta.