Senin, 26 Oktober 2015

makalah emulsi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Emulsi merupakan suatu sistem yang tidak stabil, sehinggkan dibutuhkan zat pengemulsi atau emulgator untuk menstabilkannya sehingga antara zat yang terdispersi dengan pendispersinnya tidak akan pecah atau keduannya tidak akan terpisah. Ditinjau dari segi kepolaran, emulsi merupakan campuran cairan polar dan cairan non polar. Salah satu emulsi yang kita kenal sehari-hari adalah susu, di mana lemak terdispersi dalam air. Dalam susu terkandung kasein suatu protein yang berfungsi sebagai zat pengemulsi.Bebera contoh emulsi yang lain adalah pembuatan es krim, sabun, deterjen, yang menggunakan pengemulsi gelatin. Dari hal tersebut diatas maka sangatlah penting untuk mempelajari sistem emulsi karena dengan tahu banyak tentang sistem emulsi ini maka akan lebih mudah juga untuk mengetahui zat – zat pengemulsi apa saja yang cocok untuk menstabilkan emulsi selain itu juga dapat diketahui faktor – faktor yang menentukan stabilnya emulsi tersebut karena selain faktor zat pengemulsi tersebut juga dipengaruhi gaya sebagai penstabil emulsi. Sistem emulsi termasuk jenis koloid dengan fase terdispersinya berupa zat cair B. Rumusan Masalah 1. Apa definisi emulsi ? BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian emulsi Definisi yang tepat mengenai istilah emulsi tergantung pada sudut peneliti. Ahli kimia fisik menentukan emulsi sebagai suatu campuran yang tidak stabil secara termodinamis, dari dua cairan yang pada dasarnya tidaqk saling bercampur. Bagi ahli teknologi pengembangan produk, adalah lebih bermanfaat untuk menganggap emulsi sebagai campuran dua cairan yang tidak saling bercampur, yang menunjukkan suatu shelf-life yang dapat diterima, mendekati temperatur kamar, (lachman 2008). Emulsi, emulsiones adalah system dispersi kasar yang secara termodinamiktidak stabil. Terdiri dari minimal dua atau lebih cairan yang tidak bercampur satu sama lain. Dimana cairan yang satu terdispersi didalam cairan yang lain dan untuk memantapkannya diperlukan penambahan emulgator. Identitas emulsi berasal dari bahasa latin (emulgere = memerah) yang mengacu kepada susu sebagai jenis emulsi alam, ( R voight 1995). B. Keuntungan dan kerugian emulsi Keuntungan sediaan emulsi : • Menutupi rasa minyak yang tidak enak • Lebih mudah dicerna dan diabsorbsi karena ukuran minyak diperkecil • Memperbaiki penampilan sediaan karena merupakan campuranyang homogen secara visual • Meningkatkan stabilitas obat yang lebih mudah terhidrolisis dalam air Kerugian sediaan emulsi • Sediaan emulsi kurang praktis dari pada sediaan tablet • Sediaan emulsi mempunyai stabilitas yang rendah dari pada sediaan tablet karena cairan merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri • Takaran dosisnya kurang teliti C. Tipe emulsi Berdasarkan macam zat yang cair yang berfungsi sebagai fase internal ataupun eksternal, emulsi digolongkan menjadi dua macam, yaitu : (syamsuni 2006) 1. Emjulsi tipe O/W (Oil in Water) atau M/A (minyak dalam air), adalah emulsi yang terdiri atas butiran minyak yang tersebar atau terdispersi ke dalam air. Minyak sebagai fase internal dan air sebagai fase eksternal. 2. Emulsi tipe W/O (Water in Oil) atau A/M (air dalam minyak), adalah emulsi yang terdiri atas butiran air yang tersebar atau terdispersi ke dalam minyak. Air sebagai fase internal dan minyak sebagi fase eksternal. D. Komponen emulsi Komponen emulsi dapat digolongkan menjadi dua macam, yaitu : (syamsuni 2006) 1. Komponen dasar, yaitu bahan pembentuk emulsi yang harus terdapat di dalam emulsi, terdiri atas: a. Fase dispers/fase internal/fase diskontinu/fase terdispersi/fase dalam, yaitu zat cair yang terbagi-bagi menjadi butiran kecil di dalam zat cair lain. b. Fase eksternal/fase kontinu/fase pendispersi/fase luar,yaitu zat cair dalam emulsi yang berfungsi sebagai bahan dasar (bahan pendukung) emulsi tersebut. c. Emulgator, adalah bagian dari emulsi yang berfungsi untuk menstabilkan emulsi. 2. Komponen tambahan, adalah bahan tambahan yang sering di tambahkan ke dalam emulsi untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Misalnya corrigen saporis, odoris, colouris, pengawet (preservative), dan antioksidan. Pengawet yang sering di gunakan dalam sediaan emulsi adalah metil-, etil-,propel-, dan butyl paraben, asam benzoate,dan senyawa ammonium kuarterner. Antioksidan yang sering digunakan antara lain asam askorbat (vitamin c), α-tokoferol, asam sitrat, propel galat, dan asam galat. E. Zat pengemulsi Tahap awal dalam pembuatan suatu emulsi adalah pemilihan zat pengemulsi. Agar berguna dalam preparat farmasi, zat pengemulsi harus mempunyai kualitas tertentu. Salah satunya, ia harus dapat dicampurkan dengan bahan formulatif lainnya dan tidak boleh menganggu stabilitas atau efikasi dari zat teraputik. Ia harus stabil dan tidak boleh terurai dalam preparat. Zat pengemulsi harus tidak toksis pada penggunaan.juga ia harus berbau, rasa, dan warna lemah,(ansel 1989). Berbagai tipe bahan telah digunakan dalam farmasi sebagai zat pengemulsi jumlahnya ratusan, bahkan ribuan yang telah di tes kemampuan emulsifikasinya. Di antara zat pengemulsi dan zat penstabil untuk system farmasi adalah sebagai berikut:  Emulgator alam 1. Emulgator dari tumbuh-tumbuhan a). gom arab b). tragakan c). agar-agar d). chondrus e). emulgator lain 2. Emulgator hewani a). kuning telur b). adeps lanae 3. Emulgator dari mineral a). magnesium alumunium silikat (veegum) b). bentonit  Emulgator buatan / sintetis 1. Sabun 2. Tween 20, 40, 60, 80 3. Span 20, 40, 60, 80 F. Teori terbentuknya emulsi Untuk mengetahui proses terbentuknya emulsi dikenal empat macam teori yang melihat proses terjadinya emulsi dari sudut pandang yang berbeda-beda. 1. Teori tegangan permukaan (surface tension) Molekul memiliki daya tarik menarik antara molekul yang sejenis yang disebut daya kohesi. Selain itu, molekul juga memiliki daya tarik menarik antar molekul yang tidak sejenis yang di sebut daya adhesi. Dengan cara yang sama dapat dijelaskan terjadinya perbedaan tegangan bidang batas dua cairan yang tidak dapat bercampur (immicibel liquid). Tegangan yang terjadi antara dua cairan tersebut dinamakan “tegangan bidang batas” (interfacial tension). Semakin tinggi perbedaan tegangan yang terjadi di bidang batas, semakin sulit kedua zat cair tersebut untuk bercampur. Tegangan yang terjadi pada air akan bertambah dengan penambahan garam-garam anorganik atau senyawa elektrolit, tetapi akan berkurang dengan penambahan senyawa organic tertentu, antara lain sabun (sapo). Dalam teori ini dikatakan bahwa penambahan emulgator akan menurunkan atau menghilangkan tegangan yang terjadi pada bidang batas sehingga antara kedua zat cair tersebut akan mudah berampur. 2. Teori orientasi bentuk baji (oriented wedge) Teori ini menjelaskan fenomena terbentuknya emulsi berdasarkan adanya kelarutan selektif dari bagian molekul emulgator; ada bagian yang bersifat suka air atau mudah larut dalam air, dan ada bagian yang suka minyak atau mudah larut dalam minyak . Jadi, setiap molekul emulgator dibagi menjadi dua kelompok, yaitu : a. Kelompok hidrofilik, yaitu bagian emulgator yang suka air. b. Kelompok lifofilik, yaitu bagian emulgator yqang suka minyak. 3. Teori film plastic ( interfacial film) Teori ini mengatakan bahwa emulgator akan diserap pada batas antara air dan min yak, sehingga terbentuk lapisan film yang akan membungkus partikel fase dispers atau fase internal. Dengan terbungkusnya partikel tersebut, usaha antara partikel yang sejenis untuk bergabung menjadi terhalang. Dengan kata lain, fase dispers menjadi stabil. 4. Teori lapisan listrik rangkap ( electric bouble layer ) Jika minyak terdispersi ke dalam air, Satu lapis air yang langsung berhubungan dengan permukaan minyak akan bermuatan sejenis, sedangkan lapisan berikutnya akan mempunyai muatan yang berlawanan dengan lapisan di depannya. Dengan demikian seolah-olah tiap partikel minyak di lindungi oleh 2 benteng lapisan listrik yang saling berlawanan. Benteng tersebut akan menolak setiap usaha partikel minyak yang akan mengadakan penggabungan manjadi satu molekul yang besar, karena susunan listrik yang menyelubungi setiap partikel minyak mempunyai susunan yang sama. Dengan demikian antara sesama partikel akan tolak menolak, dan stabilitas emulsi akan bertambah. G. Kestabilan emulsi Emulsi dikatakan tidak stabil jika mengalami hal–hal seperti di bawah ini : 1. Creaming yaitu terpisahnya emulsi menjadi 2 lapisa, yaitu satu bagian mengandung fase dispers lebih banyak dari pada lapisan yang lain. Creaming bersifat reversibel, artinya jika di kocok perlahan-lahan akan terdispersi kembali. 2. Koalesensi dan cracking (breaking) adalah pecahnya emulsi karena film yang meliputi partikel rusak dan butir minyak berkoalesensi atau menyatu menjadi fase tunggal yang memisah. Emulsi ini bersifat ireversibel (tidak dapat di perbaiki kembali). Hal ini terjadi karena: a. Peristiwa kimia : seperti penambahan alcohol, perubahan pH, penambahan elektrolit CaO/CaCl2 eksikatus. b. Peristiwa fisika : seperti pemanasan, penyaringan, pendinginan,pengadukan. c. Peristiwa biologis : seperti fermentasi bakteri, jamur, atau ragi. 3. Inverse fase adalah peristiwa berubahnya tipe emulsi O/W menjadi W/O secara tiba-tiba atau sebaliknya. sifatnya irreversibel.